Selasa, 06 September 2011

Teguran di Saat Hujan....

         >> Hujan masih deras membasahi bumi.
Tetesannya rapat mengguyur teras rumah, tepat dibalik kaca ruang tamu, dimana bungsuku dan ibunya dengan lekat menatap geriap air hujan runtuh ke bumi...

Keriuhan ini terasa sepi sampai terdengar bungsuku melafalkan doa yang diajarkan ustadzahnya di TKIT:

"Allahumma shayyiban naafi'aa....."
Diulanginya doa itu beberapa kali.

Sudah sekitar 20 menit berlalu, hujan tak kunjung reda.
Akhirnya bungsuku protes --entah kepada siapa-- dengan bertanya kepada ibunya: 
"Bu, saya sudah berdoa kok hujannya tidak berhenti...?!".

Si ibu tersenyum dan balik bertanya: "Izul tahu ndak artinya doa itu...?"
"Tahu...", jawabnya singkat. "Apa artinya...?". tanya si ibu.
"Artinya.., Yaa Allah ya Tuhan kami, semoga hujan ini bermanfaat bagi kami..." jawab si bungsu.

"Naah..., Izul tidak minta hujan ini berhenti, kan..? !". Jelas ibunya.
"Izul kan mintanya agar Allah menjadikan hujan ini bermanfaat.
Bermanfaat untuk pak tani yang sedang menanam padi..., bermanfaat untuk kodok yang sebentar lagi pasti pada bernyanyi teyyaat... teyyoott..!, bermanfaat untuk ikan..., bermanfaat untuk tanaman..., bermanfaat untuk mahluk hidup yang lain.., bermanfaat untuk..."   kalimat si ibu yang seterusnya sudah tidak saya dengar lagi.

          Saya yang sedari tadi nguping pembicaraan dua orang ibu dan anak ini dari balik rak buku diruang tengah cuma bisa garuk-garuk kening yang tidak gatal...

          Su'udzon saya muncul, jangan-jangan mereka berdua sedang menyindir saya yang sering berpanjang doa dengan bahasa Arab tetapi tidak tahu artinya.
Sehingga doa yang saya lafalkan hanya sekedar mengalir di lidah menghias bibir, tapi tanpa ruh yang mengkoneksikan saya dengan Yang Maha Mengabulkan.

         Jangan-jangan kedua orang ini sedang menyindir saya yang kalau berdoa memaksa segera dikabulkan, laksana pesulap yang mampu merubah sobekan-sobekan kertas di topi menjadi seekor kelinci.   Seketika...!

         Atau..., jangan-jangan dua orang ini sedang menyindir saya yang kalau berdoa lebih untuk kepentingan diri sendiri, tanpa peduli bahwa yang menguntungkan diri sendiri itu boleh jadi merugikan orang lain...
          Astaghfirullah...!
Kenapa saya malah su'udzon kepada mereka...?!
Bukankah lebih baik kalau saya husnudzon saja kepada mereka dengan berkata: "Subhanallah..., Alhamdulillah..., aku telah mendapat pelajaran, atau tepatnya teguran dari dua ibu dan anak ini tanpa mereka tahu bahwa mereka telah menegur suami dan ayahnya yang belum pejal dalam berdoa.."

         Dan.., Bismillah..., saya harus mencoba menata hati untuk rela menerima teguran ini hatta dari mereka yang mestinya justru saya pimpin dalam keluarga ini.
Dan saya tidak perlu malu menerima pelajaran ini, toh di akherat tidak akan ditanya ilmumu kamu peroleh dari siapa...?.

         Maka.., seiring dengan hujan yang mulai menggerimis, kucoba berdoa dengan mencoba memahami maknanya:

"..Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrota a'yun, waj'alnaa lil muttaqiina imaamaa..".  Aamiin...

          >> Sungguh,belum pernah kurasakan nafasku selega ini...

      

         
(artikel ini dimuat di Majalah Ummi Edisi 01 April 2010


Senin, 05 September 2011

Disimpang Jalan Dan Dipucuk Ampunan....



        >>  Disimpang jalan pemikiran para ulama tentang penetapan 1 Syawal 1432 Hijriyah  teringatku pada beberapa kisah manusia agung Rasulullah Muhammad SAW.

          Seketika beliau ditanya oleh seorang sahabat yang petani kurma, tentang tehnik bertani kurma yang baik agar dapat panen secara maksimal, beliau menjawab dengan dibeginikan dan dibegitukan sesuai yang beliau ketahui tentang tehnik bertani kurma.
Tentu saja cara yang beliau sampaikan bukanlah tehnik bertanam kurma yang baik, karena sesungguhnya beliau adalah pedagang yang handal, tetapi -maaf- beliau bukanlah seorang petani kurma yang mumpuni.
          Saran beliau dipraktekkaan oleh si petani kurma, namun sayang ketika saatnya berbuah ternyata kurma tidak bisa dipanen dengan memuaskan. Gagal..
Kejadian ini kemudian dilaporkan kepada beliau, dan rasulullah menjawab dengan jujur, dengan jawaban yang sangat terkenal :  "......antum a' lamu fii umurid dunyakum..."
"Kalian lebih tahu urusan dunia kalian...."  kata rasulullah.

          Saya juga teringat ketika rasulullah memimpin sebuah pasukan menuju medan tempur.
Ketika sampai di suatu tempat beliau memerintahkan pasukan untuk berhenti dan mendirikan tenda tempat istrahat.
Kemudian bertanya salah seorang anggota pasukan -Salman Al Farisi- sang jago strategi perang di Perang Khandaq.  Bertanya Salman : " Afwan yaa rasulullah..., panjenengan memerintahkan kami berhenti disini ini karena perintah Allah atau ijtihad panjenengan sendiri..?".
"Memangnya kenapa yaa Salman...?"   ganti rasulullah yang bertanya.
"Kalau ini perintah Allah, kami sami'na wa ato'na, karena Allah Maha Mengetahui segala rahasia yang nampak maupun yang tersembunyi.  Tetapi kalau ini ijtihad panjenengan sendiri, saya punya usul yaa..rasulullah.."  jawab Salman.
Rasulullah, sang manusia agung, sang lelaki ilham dari surga ini menjawab : "Ini adalah pendapatku, bukan perintah dari Allah. Lalu apa saranmu yaa.. Salman..?"
" Begini yaa..rasulullah,  dalam pertempuran ketersediaan logistik, dalam hal ini air sangat vital. Di depan sana ada beberapa oase yang sangat penting untuk perbekalan pasukan kita.
Alangkah lebih baik kalau kita berhenti dan mendirikan kemah disana, kita kuasai oase itu sebelum dikuasai oleh musuh.  Itu saran saya yaa rasul....".

           Rasulullah membenarkan dan menerima usul Salman Al Farisi, beliau menjawab: "Engkau benar ya Salman.."
Maka pasukanpun segera diperintahkan bergerak lagi untuk mendirikan base camp di tempat yang ada mata airnya, sesuai usul Salman Al Farisi.
Rasulullah adalah seorang jenderal perang yang tangguh, tetapi dalam hal tehnik strategi perang dan tempur, beliau mengakui Salman Al Farisi adalah yang terbaik selain si Jago Pedang Khalid bin Walid.

          Saya juga teringat ketika rasulullah berpesan kepada sekelompok sahabat yang ditugaskan membawa misi ke sebuah kabilah Yahudi Bani Quraizhah.
Rasulullah berpesan kepada para sahabat: "Janganlah kalian sekali-kali sholat ashar kecuali di tempat Bani Quraizhah..!".
Dengan pesan itu berangkatlah para sahabat ke tempat Bani Quraizhah.

         Namun ketika matahari hampir terbenam para sahabat belum sampai di tempat yang dituju. Jika dipaksakan berjalan maka akan sampai di tujuan setelah matahari terbenam dimana waktu sholat ashar telah lewat.      Akhirnya para sahabat bermusyawarah untuk menentukan kapan sebaiknya mereka mengerjakan sholat ashar.
Sebagian berpendapat sebaiknya sholat ashar sekarang saja sebelum matahari terbenam. Bukankah sholat maktubah telah ditentukan waktu-waktunya, termasuk sholat ashar harus dikerjakan sebelum matahari terbenam...?
Sebagian lain tidak sependapat. Mereka berpegang pada pesan rasulullah: "Janganlah kalian sekali-kali sholat ashar kecuali ditempat Bani Quraizhah..!"
Jadi walaupun matahari sudah terbenam tetap shalat ashar di tempat Bani Quraizhah...!

          Para sahabat " sepakat untuk tidak sepakat ".
Akhirnya sebagian sholat ashar di jalan pada saat matahari belum  terbenam, dan sebagian lain tetap mengerjakan sholat ashar ditempat tujuan walaupun matahari sudah terbenam, yang berarti telah lewat waktu ashar.

          Setelah misi selesai para sahabat kembali ke Madinah dan melaporkan perbedaan pendapat mereka kepada rasulullah. Subhanallah....!  manusia agung itu menjawab dengan bijaksana, kata beliau : " Pendapat kalian kedua-duanya benar...!"

          Dari hadits-hadits tersebut -disamping hadits-hadits yang lain tentunya- dengan segala keterbatasan saya memutuskan untuk mengikuti lebaran dengan metode hisab / wujudul hilal.
Saya juga mafhum dengan sabda rasulullah: "Janganlah kalian berpuasa sampai melihat hilal...  dan jangan kalian berbuka (berlebaran) sampai melihat hilal..! Bila pandangan kalian terhalang oleh awan maka "faqduruulahu..! kira-kirakanlah / hitunglah / hisablah...!"

           ( Dr, Yusuf Qordhowy mengatakan bahwa hadits ini merupakan untaian emas dan isnad paling shahih   yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori.
Lalu apa makna / tafsir kalimat "faqduruulahu...?!".  Dr. Yusuf Qordhowy menjelaskannya secara rinci di "Fatawaa Mu 'ashirah" / Fatwa-fatwa Kontemporer, jilid 2 dalam belasan halaman dari hal: 289 s/d 317 )

          Hanya saja pernyataan rasulullah tersebut menurut saya adalah pernyataan seorang manusia biasa yang pada saat itu terbatas pengetahuannya tentang ilmu astronomi ( sesuai pengakuan beliau di hadits yang lain, bahwa beliau adalah kaum yang umiy,,)
Kita semua tahu bahwa yang menentukan jumlah hari dalam satu bulan adalah pergerakan dan posisi 3 benda langit, yaitu matahari, bumi dan bulan.
Sedangkan awan atau mendung bukanlah variabel yang menentukan banyaknya hari dalam satu bulan.

          Sebuah ilustrasi >> Kalau seandainya pada tanggal 29 Ramadhan menurut perhitungan astronomi / hisab hilal sudah 4 - 5 derajat diatas ufuk, yang secara astronomi hilal sudah dapat dirukyat / dilihat, tetapi mendung atau bahkan hujan lebat menutupi pandangan di lokasi-lokasi rukyat, apakah kemudian bulan Ramadhan juga akan digenapkan menjadi 30 hari..?!

          Dalam renungan saya, -maaf ini memang subyektif- ketika beliau ngendika tentang  rukyatul hilal, adalah sama dengan ketika beliau menjawab pertanyaan sahabat tentang bertani kurma yang baik dan ternyata gagal panen
Sama dengan ketika beliau memerintahkan pasukan berhenti di suatu tempat tetapi kemudian berubah mengikuti pendapat dan saran dari Salman Al Farisi dalam kisah diatas.

              Beliau adalah manusia agung dalam hal  ahlaq, aqidah dan muamalah dan kita wajib merujuk kepada beliau.     Namun dalam hal teknologi, seiring dengan berkembangnya zaman dan teknologi, generasi sekarang tentu lebih maju dibanding teknologi yang ada pada zaman beliau.

          Rasulullah menjelaskan dengan rinci tentang waktu-waktu sholat maktubah dengan tanda-tanda alam.
Tetapi generasi sekarang menetapkannya dengan jam yang nota bene adalah ilmu hisab.
Dan sebagian yang sangat besar  -kalau keberatan dikatakan semua-  umat Islam di seluruh dunia sepakat dengan menggunakan metode ini.
         Di masjid-masjid kuno di pulau jawa masih ada "jam bancet" atau jam matahari, tetapi itu sudah jarang digunakan. ( Bagaimana menentukan waktu subuh, magrib dan isya,  dan juga bagaimana menentukan dhuhur dan ashar pada waktu hujan lebat dengan jam bancet..?!)
Hampir semua umat Islam di dunia menggunakan hisab / jam untuk menentukan waktu-waktu sholatnya...

          Dalam menentukan imsak atau subuh misalnya, Al Qur'an dengan tegas dan jelas menerangkan : ".....makan dan minumlah kamu sampai jelas benang putih dengan benang hitam, yaitu fajar....." (QS. Al Baqarah 187).   Tetapi kita semua dan hampir seluruh umat Islam menentukan imsak dan atau subuh dengan menggunakan hisab / jam, tidak dengan melihat fajar dilangit apalagi dengan membandingkan benang putih dengan benang hitam...!
Walaupun ayat Al Qur'annya   -ini bahkan ayat Al Qur'an "bukan hanya" hadits- mengatakan dengan jelas demikian...

        >>  Intermezzo dikit yaah...!!!

          Ada kisah jenaka tentang ayat Al Baqarah 187 ini, yaitu ketika seorang sahabat rasulullah Adi bin Hatim, putra dari Hatim at Thai yang terkenal itu, yang dulunya pemeluk Nasrani, kemudian datang kepada rasulullah dan langsung memeluk Islam.
          Dia adalah seorang muslim yang taat dan setia. Demikian setianya memegang bunyi ayat Al Baqarah 187 tersebut, sehingga diletakannya 2 utas benang diatas kasurnya. Seutas benang putih dan seutas benang hitam.
Sebelum matanya dapat membedakan warna putih dan warna hitam dari kedua benang tersebut beliau masih makan sahur.  Setelah jelas perbedaanya karena fajar telah menyingsing barulah beliau berhenti makan.
          Lalu beliau datang kepada rasulullah menerangkan perbuatannya tersebut.
Berkatalah rasulullah kepadanya sambil tersenyum: " Kasur tempat kamu meletakkan kedua benang itu sangat luas hai Adi....!".
          Sebab yang dimaksud dengan benang putih adalah merah fajar tanda hari telah siang dan benang hitam adalah gelap malam yang telah ditinggalkan.
(Buya Hamka, Tafsir Al Azhar, Tafzir Juz 2, QS. Al Baqarah ayat 187, halaman 107)   

         >> Kembali ke laptop....!!

          Akhirnya dengan segala keterbatasan ini, ada beberapa kesimpulan yang kiranya bermanfaat untuk saya pribadi dan syukur alhamdulillah sekiranya bermafaat juga bagi orang lain, yaitu :

1. Dalam menentukan bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah, umat Islam memiliki beberapa metode.
Yang paling populer diantaranya adalah metode rukyatul hilal dan wujudul hilal / hisab.
Kedua metode tersebut adalah hak semua umat Islam di dunia, hanya saja di Indonesia ormas Islam seperti Muhammadiyah sepakat menggunakan metode wujudul hilal / hisab dan NU sepakat menggunakan metode rukyatul hilal.

2. Berharap kepada para ulama dan astronom untuk menjelaskan argumentasi dan tehnik kedua metode   tersebut (dengan bahasa yang sederhana tentunya) beserta hasilnya kepada umat dengan jujur, adil, berimbang sesuai dengan fakta yang ada, kemudian diserahkan kepada umat untuk memutuskan mana yang akan diikuti yang lebih menentramkan hatinya.

3. Bagi umat yang belum berani memutuskan dipersilakan untuk mengikuti pendapat yang menentramkan hatinya. Misalnya bagi kaum nahdliyin dipersilakan mengikuti keputusan ulama-ulama NU, dan bagi anggota Muhammadiyah dipersilakan mengikuti keputusan majelis tarjihnya.
Demikian juga  dengan umat dari ormas Islam yang lain.

Sedangkan bagi yang tidak berafiliasi dengan ormas Islam manapun dipersilakan mengikuti keputusan hasil sidang isbath oleh pemerintah.

4. Setelah memutuskan, marilah kita beribadah sesuai dengan keputusan yang kita yakini dengan tetap saling menjaga ukhuwah dan saling menghargai.

          Pengalaman di masyarakat, berbeda pendapat seperti ini bukan masalah yang perlu diributkan.
Saya pribadi -yang sungguh dengan segala keterbatasan- dipercaya dapat jadwal khotbah jumat dan mengimami taraweh di masjid Muhammadiyah.
Tetapi karena tinggal / kos dilingkungan warga yang cenderung ke nahdliyin maka sering jamaah sholat rowatib di masjid nahdliyin.
          Saya sering makmum sholat subuh dengan imam yang baca doa qunut, walau saya tidak baca doa qunut di sholat subuh.      Sesekali pernah juga  "dipaksa"  jadi imam sholat subuh.
Maka sebelum sholat saya woro-woro kepada jamaah : " Bapak-bapak dan ibu-ibu rahimakumullah...! Nyuwun sewu, saya tidak mbaca doa qunut nggiiih.....?!".
Jamaah dengan enteng serentak menjawab: "Ngggiiihh.....!".
Selesai sudah perbedaan dengan elegan, anggun, aman, tenteram dan damai....

          Betapa saya menikmati dengan tersenyum, kebiasaan saudara saya kaum nahdliyin yang begitu semangat untuk salaman berjabat tangan.
Habis sholat tahiyatul masjid salaman, habis sholat qobliyah salaman lagi, habis sholat jamaah ngajak salaman lagi, habis dzikir bareng-bareng dengan jahr mau pulang salaman lagi dengan runtung-runtung kaya' presiden esbeye lagi open house. Dan habis sholat ba'diyah masih ngajak salaman lagi.
Walaupun saya tidak melakukan itu.

          Habis mau bagaimana lagi, lha wong paham mereka memang begitu. (Lihat : "Tradisi Orang-orang NU" tulisan H Munawir Abdul Fatah, tentang kebiasaan berjabat tangan kaum nahdliyin,  halaman 199 s/d 202)
Yang penting tercipta ukhuwah islamiyah yang baik, guyub, rukun, ayem, tentrem, saling menghargai dan menghormati tanpa merasa paling berhak menguasai kapling di surga.

          Akhirnya curhat ini saya tutup dengan doa yang diajarkan rasulullah, yang senantiasa beliau baca pada iftitah solat malamnya yang panjang dan syahdu, yang menjadi mukadimah  "Fatawa Mu 'ashirah"-nya    Dr. Yusuf Qordhowy:


          Bismillahirrahmaanirrahiim...

"Ya Allah, Tuhan Kami, Tuhan malaikat Jibril, Mikail dan Israfil...
Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, Yang mengetahui hal-hal ghaib dan yang nampak nyata...
Engkaulah yang menghakimi atas apa yang menjadi ikhtilaf diantara hamba-hamba-Mu...
Tunjukkanlah kepada kami kebenaran diantara ikhtilaf-ikhtilaf  itu dengan izin-Mu...
Sesungguhnya Engkaulah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki...
ke arah shiraatim mustaqiim (jalan lurus menuju kebenaran)...."

         Aamiin...


Wallahu a'lam....

Aku Sekedarnya....


     >> Sekedar mengingat masa lalu......,   bahwa aku terlahir dengan nama Haryanto, di Semarang ibukota Jawa Tengah.
Namun kata orang tua saya, semasa kecil sering sakit-sakitan, maka sesuai kebiasaan orang jawa harus diganti atau ditambah namanya supaya tetap sehat. 

             Konon nama seseorang sesungguhnya adalah doa dari orang tua untuk anaknya....
Maka ditambahlah nama saya menjadi Mari Haryanto, yang maksudnya kalo sakit segera  ' mari ' atau sembuh. 

Sejak itu saya sering dipanggil dengan sebutan Mari, atau Heri, panggilan gaul dari nama Haryanto yang lidah jawa pasaran lebih mudah menyebut Heriyanto....

          Dalam perjalanan waktu, ada tokoh nasional yang cukup dikenal dg sebutan "Mr.Clean" yaitu Mar'ie Muhammad yang semula Dirjen Pajak kemudian diangkat menjadi Menteri Keuangan.
Ketenaran beliau mengimbas kepada saya, dimana banyak orang sekitar yang semula memanggil saya Mari atau Heri  berubah menjadi Mar'ie...
           Karena nama saya anggap doa, saya oke-oke saja, mudah-mudahan Allah meridhoi saya bisa sebersih dan sesukses Bpk. Mar'ie Muhammad....

                    Aamiin..... Yaa Robbal     'aalaamiin.....
 
          Saya lahir pada tanggal 12 Desember tahun berapa yah...?  hehehe...
Saya sekolah SD, SMP, SMA dan Kuliah di Perguruan tinggi di Semarang
Pada tahun 1994 saya bekerja di sebuah BUMN di Tegal sampai sekarang..
Kiranya cukup ini dulu, perkenalan dari saya..... Info selanjutnya sambil jalan saja...

          Terimaksih atensinya......